Blogger Widgets Laskar Japemethe: Prinsip Kesantunan Robin T. Lakoff Selamat Datang di Blog Japemethe : Seputar Bahasa dan Sastra Blogger Widgets

Senin, 23 Desember 2013

Prinsip Kesantunan Robin T. Lakoff



“PRINSIP KESANTUNAN ROBIN TOLMACH LAKOFF


Oleh :
Citra Philosia Soeharto


BAB I
PENDAHULUAN


A.           Latar Belakang
              Percakapan ialah interaksi verbal yang melibatkan dua pihak atau lebih  yang berlangsung secara tertib dan teratur untuk mencapai tujuan tertentu sebagai wujud peristiwa komunikasi. Interaksi bahasa antara pihak-pihak yang terlibat di dalam tindak berbahasa itu melibatkan unsur-unsur yaitu penutur dan mitra tuturnya, selain itu unsur yang lain mencakupi tujuan dan aspek-aspek fisik yang berkenaan dengan ruang dan waktu.
              Penutur membangun komunikasi dengan baik terhadap mitra tutur bertujuan untuk menciptakan keharmonisan berkomunikasi dengan mitra tutur. Penciptaan tuturan secara santun diharapkan tidak menyinggung perasaan mitra tutur ketika dalam proses kegiatan komunikasi. Dalam situasi yang formal sudah menjadi kewajiban pemakai bahasa untuk bersikap santun ketika berkomunikasi. Robin T. Lakoff (1990:34) menjelaskan bahwa kesantunan adalah suatu sistem hubungan antar manusia yang diciptakan untuk mempermudah hubungan dengan meminimalkan potensi konflik dan perlawanan yang melekat dalam segala kegiatan manusia.
              Dengan demikian perlu adanya prinsip dan skala agar penutur dan mitra tutur dapat berkomunikasi dengan baik dan kedua belah pihak saling menguntungkan. Maka prinsip kesantunan (politeness principple) adalah sesuatu dengan aturan tentang hal-hal yang bersifat sosial, estetis, dan moral dalam bertindak tutur. Didalam bertutur, seorang penutur tidak hanya menyampaikan informasi, tugas, kebutuhan, atau amanat, tetapi lebih dari itu, yaitu menjaga dan memelihara hubungan sosial antara penutur dan mitra penutur.

B.            Rumusan Masalah
              Dengan menganalisis judul yang telah penyusun paparkan, dalam makalah ini akan dibahas rumusan :
1.        apa pengertian prinsip kesantunan ?
2.        bagaimana prinsip kesantunan Robin T. Lakoff ?

C.           Tujuan Penulisan
              Sejalan dengan rumusan masalah di atas, tujuan dalam penulisan makalah ini adalah untuk menjelaskan dan mendeskripsikan :
1.        pengertian prinsip kesantunan;
2.        prinsip kesantunan Robin T. Lakoff.


BAB II
PEMBAHASAN


A.           Pengertian  Prinsip Kesantunan
              Menurut KBBI, kata “prinsip” mempunyai arti yaitu asas, kebenaran yang jadi pokok dasar orang berpikir, bertindak dan sebagainya. Dapat pula diartikan sebagai suatu hal yang dianggap sebagai acuan seseorang dalam bertindak, melakukan sesuatu serta berhubungan dengan orang lain.
              Kata “Kesantunan” berasal dari kata “santun” yang berarti halus dan baik budi bahasanya, tingkah lakunya; sopan, sabar dan tenang; menaruh belas kasihan; menolong, meringankan kesusahan orang; memperhatikan kepentingan umum. Kemudian kata “santun” mendapatkan awalan “ke” dan akhiran “an” yang membentuk kata benda “kesantuan” sehingga mempunyai makna hal-hal yang berkaitan dengan kehalusan dan kebaikan; baik tingkah laku yang sopan, tutur kata baik sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Sedangkan menurut Robin T. Lakoff (1990:34) menjelaskan bahwa kesantunan adalah suatu sistem hubungan antar manusia yang diciptakan untuk mempermudah hubungan dengan meminimalkan potensi konflik dan perlawanan yang melekat dalam segala kegiatan manusia.
              Dari pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa “prinsip kesantuan” dapat diartikan sebagai pokok atau acuan mengenai kesopanan, kesabaran, kehalusan, kebaikan, baik dalam cara bertutur kata maupun bertindak atau berhubungan dengan orang lain         

B.            Prinsip Kesantunan Robin T. Lakoff
              Prinsip kesantunan sendiri mempunyai beberapa pengertian menurut Robin T. Lakoff bahwa dalam berkomunikasi antara penutur dan mitra tutur, tak terjadi pemahaman kehendak, serta adanya pilihan (give option), sehingga pesan atau ide yang disampaikan dapat diterima dan dipahami dengan baik dan timbul kesantunan serta adanya rasa nyaman dan ramah. Jadi inti pernyataan di atas adalah :
1.        Jangan memaksa (don’t impose)
Contoh :
“Di mana Yati? Tolong dipanggilkan, ya !”
Lebih santun daripada “cepat panggilkan Yati sekarang!”
2.        Berikan pilihan (give options)
Contoh :
“Silahkan kerjakan ini sekarang atau besok.”
Lebih santun daripada “kerjakan ini sekarang juga!”
3.        Buatlah rasa nyaman, bersikaplah ramah (make a feel good, be friendly)
Contoh :
“Kamu dan saya tingkatannya sama, kita kan sama-sama murid Pak Daryanto.”
Lebih santun daripada “kamu muridnya Pak Daryanto atau bukan, sih?”
             
              Lakoff (1972) menyatakan tiga ketentuan untuk dapat dipenuhinya kesantunan di dalam kegiatan bertutur Skala yang harus ditaati agar tuturan itu lebih santun. Antara lain ;
1.        Skala Formalitas
       Skala formalitas berarti jangan memaksa atau jangan angkuh. Konsekuensi Skala ini adalah bahwa tuturan yang memaksa dan angkuh adalah tuturan yang tidak atau kurang santun.
                 Contoh :
a.         “Cepat bawa bukunya kemari, lama sekali!”
b.          “Maaf, pintunya dibuka saja agar udaranya dapat masuk!”
Tuturan yang pertama bukan merupakan Skala formalitas karena tuturan tersebut tidak santun dan angkuh. Sedangkan tuturan yang kedua merupakan Skala formalitas karena pada tuturan kedua penutur menuturkan tuturan tersebut dengan santun dan menggunakan kata maaf pada saat menuturkan tuturan tersebut.
2.        Skala Ketidaktegasan
       Skala ketidaktegasan berisi saran bahwa penutur hendaknya bertutur sedemikian rupa sehingga mitra tuturnya dapat menentukan pilihan.
                 Contoh :
a.         “Jika Anda tidak keberatan dan tidak sibuk, saya harap Anda bisa datang dalam acara peresmian gedung nanti sore!”
b.         “Jika ada waktu dan tidak mengganggu, pergilah ke kantor mengambil surat yang tertinggal!”
       Kedua tuturan di atas merupakan tuturan yang termasuk dalam Skala ketidaktegasan karena tuturan di atas adalah tuturan yang santun dan memberikan pilihan kepada mitra tuturnya untuk melakukannya atau tidak.
3.        Skala Persamaan atau Kesekawanan
       Makna Skala ini adalah bahwa penutur hendaknya bertindak seolah-olah mitra tuturnya itu sama, atau dengan kata lain buatlah mitra tutur merasa senang.
                 Contoh:
a.         “Tulisanmu rapi sekali, hampir sama seperti tulisanku.”
b.         “Tarianmu tadi sungguh memukau.”
c.         “Mengapa nilai sastramu tetap jelek?”
       Tuturan pertama dan kedua di atas merupakan tuturan yang memenuhi Skala persamaan atau kesekawanan karena dalam tuturannya, penutur membuat mitra tutur merasa senang. Sedangkan, tuturan ketiga sebaliknya karena membuat mitra tuturnya tidak merasa senang.


BAB III
SIMPULAN DAN SARAN


A.           Simpulan
              Dari makalah yang dibahas, dapat ditarik kesimpulan bahwa prinsip kesantuan dapat diartikan sebagai pokok atau acuan mengenai kesopanan, kesabaran, kehalusan, kebaikan, baik dalam cara bertutur kata maupun bertindak atau berhubungan dengan orang lain. Sementara itu, menurut Robin T. (1990) prinsip kesantunan yaitu jangan memaksa (don’t impose), berikan pilihan (give options), dan buatlah rasa nyaman, bersikap ramah (make a feel good, be friendly). Robin Lakoff menyatakan tiga ketentuan untuk dapat dipenuhinya kesantunan di dalam kegiatan bertutur : Pertama, skala pertama atau skala formalitas. Dinyatakan bahwa agar para peserta tutur dapat merasa nyaman dan kerasan dalam kegiatan bertutur, tuturan yang digunakan tidak boleh bernada memaksa dan tidak boleh berkesan angkuh. Kedua, skala kedua atau skala ketidaktegasan/skala pilihan. Menunjukkan bahwa agar penutur dan mitra tutur dapat merasa nyaman dalam kegiatan bertutur, pilihan-pilihan dalam bertutur harus diberikan oleh kedua pihak. Tidak diperbolehkan terlalu tegang atau kaku. Ketiga, skala ketiga atau peringkat kesekawanan atau kesamaan. Menunjukkan bahwa agar dapat bersikap santun, orang haruslah bersikap ramah dan selalu mempertahankan persahabatan antara pihak yang satu dengan pihak yang lain. Agar tercapai maksud yang demikian, penutur haruslah dapat menganggap mitra tutur sebagai sahabat. Dengan menganggap pihak yang satu sebagai sahabat bagi pihak lainnya, rasa kesekawanan dan kesejajaran sebagai salah satu prasyarat kesantunan akan dapat tercapai.

B.            Saran
          Dengan adanya pembahasan ini kami menyarankan kepada pembaca :
1.           Agar mempelajari pembahasan ini.
2.           Dapat memahami pembahasan ini.
3.           Dapat mengkajinya lebih baik dan lebih dalam di kemudian hari.



DAFTAR PUSTAKA



Rahardi, Kunjana. 2005. Pragmatik: Kesantunan Imperatif Bahasa Indonesia. Jakarta: Penerbit Erlangga


Rustono. 1999. Pokok-pokok Pragmatik. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.



Tidak ada komentar :

Posting Komentar


Get Free Music Indonesia Technology

Free Music Indonesia Technology